Tentang 2020

Hallo, Pagi ini tanggal 31 Desember 2020. Pesawatku terbang dari kalimantan ke jawa. Berkebalikan dengan tahun lalu, pesawatku terbang dari jawa ke kalimantan. Sudah enam bulan aku berubah domisili dari yang dulunya Bandunng, kemudian Jogja, dan sekarang Samarinda. Aku ikut bersama kakakku di sini, jadi tak lagi sendiri seperti empat tahun terakhir.

Tahun ini rasanya semuanya berjalan sangat cepat, kemudian melambat, lalu cepat lagi. 

Masih ingat dalam benakku awal Januari aku baru mendarat dari Samarinda, dengan pesangon dapat mesin cuci undian tahun baru. Kemudian di ulang tahun ayahku, aku kembali ke Bandung-cepat cepat karena berniat menyelesaikan skripsi cepat. Hari-hari di semester terakhir ini ku jalani dengan kuliah, berusaha ne-a, dan malamnya kulineran sama teman sefrekwensi, dan tiba-tiba sudah hari ulang tahunku. 

Aku mendadak galau hari itu, menggalaukan apa aku sudah lupa. Tapi aku ingat kesenduannya. Dekat dengan hari ulang tahunku, kabar duka mulai bermunculan. Beberapa temanku sempat sakit. duh GWS yaa



Foto dari dokumentasi event, cie terlihat kompak angkatanku

Beranjak ke Februari, Februari menjadi bulan cukup bermakna karena di bulan ini, Konser Angklung berhasil diselenggarakan-sebelum badai corona menyerang Bandung dan segala macam pertunjukkan atau hal ramai lainnya dilarang.




Foto dari dokumentasi event, keren banget yak gue bisa ikut tampil konser ini

Maret, aku yang hari itu sedang hari pertama, dengan sangat terpaksa mengambil komputer kampus untuk dibawa ke kosan. Hari itu merupakan hari terakhir aku ke kampus. Hari terakhir kampus dibuka untuk umum- setelahnya semua dibatasi dan harus ada surat yang jelas kepentingannya. 

April- kemudian Mei. 12 Mei tepat di ulang tahun ibuku, aku seminar tugas akhir. 

Mei 2020 juga menjadi kali pertamaku Idul Fitri sendiri. literally sendiri karena kosan mendadak sepi tiada lagi penghuni. 

Juni,

Akhir Juni, aku berhasil menyelesaikan skripsiku- aku sidang. aku juga disibukkan dengan packing barang untuk dikemas dan dikirim ke Jogja. Aku bersiap pulang. Bagai seorang yang telah pergi jauh, aku yang sudah dua tahun merasa asing dengan Jogja merasakan kegalauan karena aku harus kembali. 

Entah kenapa, aku sedikit benci berada di kota itu. Kenangan bersama yang lama masih sering mengganggu pikiranku, banyak kenangan yang membuatku sedih dan menyesal. Tapi, bagaimanapun itu adalah kotaku, tempatu pulang.




7 Juli 2020, aku pulang dengan tak lupa sebelum check in kereta aku menangis. Rasanya campu aduk, yang jelas karena harus meninggalkan Bandung. Di titik itu aku benar benar merasa sudah nyaman tinggal di Bandung, aku sudah beradaptasi cukup baik. Di tambah, saat itu aku sudah banyak kenangan manis yang mampu menghapus kepahitan sebelumnya akan kota ini. 

Dua minggu aku menaati karantina di rumah. Terpaksa menaati karena ibuku cukup takut dengan virus ini. Kemudian, dua minggu lagi aku jalani dengan bertanam dan menjahit di rumah. Sesekali aku meng-apply pekerjaan secara online. Ya, aku adalah tipikal yang galau dan panik jika sedang tak ada kesibukan. 

Tak lama dari kepulanganku, aku memutuskan untuk pergi ke Samarinda. Lagi- lagi mengadu nasib dengan yang namanya kota. Kenapa harus Samarinda, alasannya hanya satu. Dari aku lulus SMP aku ingin sekali berkarir di sini dan aku berusah mewujudkannya. 

Belum cukup satu minggu di Kota ini, aku sudah diajak untuk pergi ke Kota lain untuk proyekan. Tentunya aku sudah memastikan bahwa aku tidak terkena corona yaa. 

Di Bulan selanjutnya aku disibukkan dengan pembelajaran peta daring dari Indonesia Mapping Community

Tiba-tiba Oktober datang. Bulan Oktober adalah bulan pertama kali aku masuk hutan belantara. Hutan Meratus. Beruntung karena tak semua orang punya kesempatan ini karena penjagaan yang ketat.






Tiba-tiba November datang kemudian Desember, disibukkan dengan laporan - laporan dan akhirnya aku memutuskan sejenak pulang menengok  kembali jogjakarta. :) 



Comments

Popular Posts