Good bye again Jogjakarta
Hari itu, waktu masih menunjukkan pukul tiga pagi waktu indonesi bagian barat. Ibuku sudah sibuk membangunkan seisi rumah untuk menjalankan sholat tahajud.
Hari itu 18 Agustus 2020, lagi lagi aku memutuskan untuk meninggalkan Jogjakarta. Kota paling tenang dan nyaman untuk ditinggali. Namun di hari tua. Pikirku. Aku bertolak ke Kaimantan Timur, kota impianku bekerja sejak SMP.
Siapa yang sangka aku akan secepat itu meninggalkan Jogjakarta setelah sebulan di rumah dengan separuhnya adalah masa karantina. Ya, sebulan lalu aku baru tiba dari Bandung.
Selepas subuh di rumah, sekeluarga mengantarkanku ke Bandara YIA yang sangat megah dengan masing masing sisinya menghadap laut dan pegunungan.
Setelah berpamitan kepada kedua orang tuaku, aku memutuskan untuk memasuki area bandara. Ku tenteng sebuah koper besar isi baju dan titipan kakaku. Koper itu ku masukkan ke dalam bagasi kecuali tas berisi laptop setelah semua dokumen terkait covid ku di check. 28 kg sekian, melebihi batas maksimum bagasi yang ditanggung pesawat.
Setelah semua beres, aku memutuskan ke ruang tunggu. Elok sekali ruang tunggunya sekarang. Jauh berbeda dengan pemandangan setengah tahun lalu. Penumpang yang duduk di sana akan disajikan pemandangan menghadap laut.
Yah, masing-masing dari kami sedang sibuk mencari dan meraba pekerjaan setelah lulus dari sebuah kampus besar. Kampus besar yang mengadakan wisuda saja belum bisa. Sayang sekali namun tidak apa. Ku rasa masalah mau bekerja di mana lebih rumit dibanding mengurusi bagaimana prosesi wisuda.
Setengah jam menunggu, terdengar penumpang dipersilahkan untuk memasuki pesawat. Ku berpamitan dengan teman diujung telpon dan memohon doa keselamatan dan berjanji mengabarinya setelah sampai di Sepinggan. Ya, Aku memilih melalui Bandara Sepinggan dikarenakan tidak mendapat izin dari ibuku menggunakan maskapai lain.
Sesampainya di Sepinggan dan berkaabar ke keluarga, perjalananku disambung dengan menggunakan travel menuju Kota Samarinda. Bah, rasanya pusing sekali aku dan perut kosongku. Tak dihindari aku mual dan muntah di perjalanan. Padahal aku anaknya suka traveling dan bukan pemabuk darat. Disinalah aku mulai trauma memasuki jalan poros Balikpapan-Samarinda.
Singkat cerita aku sampai di Samarinda dengan muka sangat lemas. Ditemani rintik sendu hujan sore itu, aku dijemput kakaku dan diajaknya makan mie aceh. Aku mengira perjalananku hari itu sudah berakhir dan waktunya istirahat. Ternyata salah.
Setelah sampai rumah dan berkemas, malam itu juga aku diajaknya ke sebuah komplek perumahan di Samarinda. Di sana aku dikenalkan dengan orang yang menjadi mentorku saat ini.
Perjalanan hari itu sungguh menjadi perjalanan yang melelahkan bagiku. Namun, perjalanan ini sangat membuka sebuah wawasan baru untukku.
Dari Samarinda,
28 Oktober 2020


Comments
Post a Comment