MAMMON
Aku kecil adalah aku yang nakal,
aku yang jail, dan aku yang super jorok. Tapi itu menurut kakakku, kakak
ternyebelin yang pernah aku temukan di dunia ini. Tapi menurutku, Ratna kecil
adalah Ratna yang hebat. Yah.. aku sangat bangga dengan masa kecilku. J
Kedua orang tuaku bekerja sebagai
pegawai negri. Dan sekolahku selesai lebih dulu dari pada kantor mereka. Itu
sebabnya aku membutuhkan seorang pengasuh untuk menemaniku sepulang sekolah. Dan
kedua orang tuaku sepakat untuk menitipkanku pada simbah. Dia masih saudara
kami, rumahnya tak jauh dari rumahku juga. Bagiku mereka memilih orang yang
tepat untuk menitipkanku.
Hari-hariku bersama simbah sangat
menyenangkan. Hingga suatu ketika simbah jatuh sakit dan perlu dirawat di rumah
sakit. Ga jauh sih rumah sakitnya dari rumah. Tapi aku merasa ngeri memasuki
rumah sakit itu, gegara pernah dicabut gigi disana.
Terus, siapa dong yang harus
merawatku, menemaniku selama orang tuaku belum pulang?? Huft. Apa aku harus
berhibernasi. Tidur sepulang sekolah
sampai mereka pulang. Atau main sama teman-teman. Karna mustahil untuk tidur
siang terlalu lama. Sekolahku saja memulangkan muridnya jam 10 pagi. Sedangkan
orang tuaku pulang jam dua siang.
Untuk bermain, apa aku tidak lapar
jika bermain terus. Apa aku harus ikut makan bersama temanku saat jam makan
siang, dan itu artinya aku harus meminta makanan kepada ibunya.. ahhhh enggaaa…
memalukan, setomboi-tomboinya diriku, aku tak akan melakukannya. Tapi apa aku
harus selalu kelaparan saat jam makan siang sampai simbah sembuh????
Alhasil, simbah menyarankan untuk
menitipkanku pada menantunya. Dan dia itu sangat galakkkkk… super duper galak!!
Keluargaku menyebutnya mamak, tapi aku lebih suka menyebutnya Mammon. Sebutan
itu terinspirasi dari film barat yang pernah aku tonton bersama kakak. Itu
kepanjangan dari mamak monster. Haha..
Keterlaluan sekali memang, tapi bagiku
itu pas untuk dirinya.
Mammon itu punya seekor anak.
Namanya Mita. Dia itu anak yang teramat sangat manja. Bermain saja harus
diantar. Apalagi kalau sekolah, antar jemput dah tu anak. Nyebelin pokoknya kalo
main bareng dia itu. Tapi sayang, dia 2 tahun lebih tua dari aku, dan kata ibu aku
harus tetap hormat padanya dan mau nurut sama emaknya.
Pernah satu ketika disaat perkumpulan
anak timur desaku sedang mengadakan lomba panjat pohon jambu milik Mbah Karso.
Padahal rumah Mbah Karso itu deket bangetdz, hanya timur rumahku berbatas
jalan. Tapi berhubung simbah masih sakit, dan aku diasuh Mammon, aku ga boleh
ikut lomba itu. Nanti kalau aku ikut, pasti Mita juga ikut. Sedangkan Mita kan
ga bisa manjat pohon. Kata Mammon kalau jatuh bisa lecet, trus sakit. Padahal bekas
luka itu bukannya malah enak ya? Ngilu-ngilu gimana gitu.. apalagi kalau kena
air, pasti jadi seger. Entahlah itu yang aku rasakan dulu saat aku hobi menjatuhkan
diriku. Aneh memang.
Bagiku tak mengikuti lomba itu
adalah pilihan yang sangat buruk. Kan hadiahnya lumayan, bisa dapat 3 jambu
susu dan 2 mangga madu. Jarang-jarang loh ada lomba kayak begini.
Sebagai alternatifnya, Mammon
menyiapkan beberapa make-up yang tidak terpakai untuk bahan bermain kami.
“Daripada maen jauh-jauhkan mending
Mita belajar ngerias. Biar besok kalo udah gedek pinter berdandan”. katanya
pada Mita.
Yah. Hari ini kita bakal berdandan
anak-anak!! Pffft. Teriakku dalam hati. Berhubung aku tak bisa merias, jadi
Mita sebagai periasnya. Damn, it so boring!! Wajahku penuh dengan hasil
make-upnya. Kalau diingat-ingat memang bagus hasilnya. Aku terlihat lebih
cantik. Tapi, karena aku sangat tak nyaman dengan bedak dan lipsstik yang tebal.
Selesai dirias aku buru-buru mencuci mukaku.
Setelah hilang semua make-upnya
akupun tersenyum puas dan lega. Tapi, tangisan Mita tiba-tiba meledak. Mammon
pun menghampiri kami
“Eeh, kenapa sayang? Kok nangis?”
tanyannya pada Mita.
“Ma, Dek Na ngehapus semua hasil
make-upku. Huhuhu” kata Mita sambil menunjjuku. Mammon melihatku dan akhirnya memelototiku
setelah tau apa yang tejadi.
Aku lari ketimur rumah untuk
menghindar dari amukan macan betina itu, dan bermaksut ikut dalam lomba panjat
pohon. Tapi sayang, sudah terlambat pendaftaranya. Dan akhirnya aku hanya bisa
menjadi penonton.
Tapi tak lama, Mammon mengetahuiku
keberadaanku. Ia menyuruhku untuk pulang dan bermain di rumah saja. Ia berlagak
sok manis pada ku di depan tetangga. Pfft..
“Ayo, pulang dulu. Udah Sore loh,
kasihan juga Kak Mita kalau ditinggal terus. Ya? “ rayunya
Tapi aku tak mau. Aku takut
dimarahi oleh Mammon sesampainya dirumah nanti. Tapi dia terus memaksa. Hingga
kalian tahu? aku sampai diantar pulang teman-temanku yang berada di tempat
perlombaan. Haha.. lucu sekali jika mengingatnya. Ketika aku sampai di rumah,
ternyata ibuku telah pulang. Dan aku pun tak kena marah si Mammon.. ohhh
senangnya.!!
Hari ini aku dijemput Mammon, dan
katanya aku akan diajak menengok simbah. Akhirnya aku bertemu juga dengan
simbah. Aku sangat ridu akan dirinya. Aku membawakannya parzel buah. Pasti dia
aan senang.
Setelah selesai menjenguk simbah,
aku diajak Mammon menjemput anak macan. Yah… Siapa lagi kalau bukan Mita. Huuh,
menyebalkan! Sangat-sangat menyebalkan untk bertemu dengannya.
Karena jaraknya dekat, kami
bersepeda. Sepeda yang kami kendarai saat itu adalah sepeda jawa yang tak ada
tempat untuk menaruh kaki sang pembonceng. Jadi, sebagai pembonceng yang baik
aku harus melebarkan kakiku hingga sampai tujuan. Tapi lagi-lagi sifat teledorku
ini menimbulkan kekacauan, dan lebihnya ketraumaan bagiku.
Tanpa sadar, kakiku masuk ke dalam jeruji
ban sepeda belakang.
“AWwwwwWwwW” aku menjerit keras.
Mammon pun segera menghentikan sepeda.
“Eh, kenapa kakimu sayang? Aduh…”
kata Mammon setelah tau apa yang terjadi dengan kakiku. Anehnya aku hanya
meringis menanggapi pertanyaan Mammon.
Kakiku tersangkut didalam jeruji. Dan
luka itu sangat parah. Parah sekali! Tulangnya saja sampai terlihat. Padahal
waktu aku TK tubuhku sangat gemuk. Bayangkan, pergi kemana dagaing-dagingku
tadi. Yah, mungkin habis karena gesekan. Aku juga masih bingung memikirkannya
sampai kami tiba di rumah sakit lagi.
Aku langsung dibawa masuk ruang ICU
dan menjadi sorotan para pasien dan penunggunya. Mendadak serasa menjadi artis.
Awww!!!
Seingatku sesampainya di rumah
sakit, aku lansung disuntik bius dan aku pun tak sadarkan diri. Hingga ketika aku
bangun, aku sudah berada dirumah dan kakiku sudah diperban. Yah. Dan lucunya, Mammon
belum juga menjemput Mita. Kata kakak, Mita sampai menangis karena mammon telat
mejemputnya. Hahaha…
Karena kejadian itu aku harus berlatih berjalan
lagi, dan mengulang masa nol kecilku di TK. Tiga tahun di TK itu sangat
membosankan!! Awful!! Tapi mulai sejak itu, aku melihat kebaikan Mammon. Walau
galak dan nyebelin, ternyata dia juga orang yang bertanggung jawab.
Comments
Post a Comment